Perjalanan Setelah Mati Adalah Purgatory

Perjalanan Setelah Mati Adalah Purgatory – Banyak sastrawan dunia yang memiliki banyak karya luar biasa yang bisa dicatat oleh dunia. Salah satunya adalah karya Durante degli Alighieri.

Sastrawan ini umumnya hanya disebut Dante, adalah seorang penyair besar Italia dari Abad Pertengahan Akhir. Jikalau karyanya yang paling terkenal adalah Inferno, kali ini Dante memiliki perjalanan cerita menuju api penyucian atau yang biasa di sebut purgatory.

Api Penyucian Dante terdiri dari gunung pulau, satu-satunya sebidang tanah di belahan bumi selatan. Dibagi menjadi tiga bagian, Dante Purgatory, Purgatory proper, dan Firdaus Duniawi, lereng yang lebih rendah diperuntukkan bagi jiwa-jiwa yang penebusannya tertunda.

Bagian atas gunung terdiri dari tujuh teras, yang masing-masing sesuai dengan salah satu dari tujuh dosa besar. Di atas gunung Dante terletak, Eden, Surga Duniawi, tempat ziarah bertemu kembali dengan Beatrice, wanita yang mengilhami puisi itu.

 BACA JUGA: INFERNO, NERAKA 9 TINGKAT

Purgatory Dalam Sejarah Gereja Katolik

Purgatory adalah istilah dalam teologi Kristen, dan khususnya dalam teologi Katolik, untuk suatu keadaan antara atau peralihan setelah kematian jasmani yang melaluinya mereka yang ditentukan ke Surga “menjalani pemurnian, sehingga mencapai kekudusan yang diperlukan untuk memasuki kegembiraan surga”.⁣

Atau dalam pengertian Api Penyucian adalah suatu kondisi yang dialami oleh orang-orang yang meninggal dalam keadaan rahmat dan dalam persahabatan dengan Tuhan, namun belum suci sepenuhnya, sehingga memerlukan proses pemurnian selanjutnya setelah kematian.

Doa syafaat yang dipanjatkan dapat dinyatakan dengan mendoakan sesama yang masih hidup di dunia, maupun mendoakan mereka yang telah meninggal dunia. Oleh karena itu, maka Gereja Katolik mengajarkan akan adanya Api Penyucian atau Purgatory, dan bahwa kita boleh, atau bahkan harus mendoakan jiwa-jiwa yang masih berada di dalamnya, agar mereka dapat segera masuk dalam kebahagiaan surgawi.

Kata Purgatorium juga digunakan untuk mengacu pada berbagai konsepsi historis dan modern tentang penderitaan pasca kematian fisik menjelang hukuman kekal.⁣

Dengan pengertian dimana jiwa-jiwa ini “calon diampuni” dan siksaan yang mereka dapatkan bersifat sementara. Di sejarahnya dalam Katolik Roma sebagai suatu kondisi transisi memiliki sejarah yang bersumber, bahkan sebelum Yesus Kristus, pada praktik di seluruh dunia dalam hal mengurus orang-orang yang telah wafat dan berdoa bagi mereka, serta pada keyakinan, bahwa berdoa bagi orang yang telah meninggal dunia bermanfaat untuk pemurniannya dalam kehidupan setelah kematian. ⁣

Praktik serupa tampak dalam tradisi-tradisi lainnya, misalnya praktik Buddhis Tiongkok abad pertengahan dalam hal mempersembahkan kurban demi kepentingan arwah, yang dikatakan menderita berbagai cobaan.

 

Purgatory Ada Karena Allah Adil

Api penyucian atau Purgatory ada karena memang tentang keadilan Allah yang membedakan dosa berat dan dosa ringan. Mengapa demikian?

Itu karena dosa selalu membawa konsekuensi. Ada orang-orang yang berpikir bahwa jika Allah mengampuni, maka tidak ada lagi yang harus dipikirkan mengenai ‘akibat dosa’ sebagai konsekuensinya.⁣ Dipercayai berpaling dari Tuhan akan dikenakan dosa berat, kalau mati manusia tidak bertobat mereka akan langsung masuk ke dalam api neraka tanpa merasakan keadilan dalam api penyucian.

Purgatory: Karya Dante Aleghieri

Namun kenyataannya, hampir seluruh bagian Kitab Suci menceritakan sebaliknya. Selalu saja ada konsekuensi yang ditanggung oleh manusia, jika ia berdosa terhadap Allah, meskipun Allah telah memberikan pengampunan. ⁣

Kita melihat hal demikian, misalnya, pada Adam dan Hawa, setelah diampuni dosanya, diusir dari taman Eden (Kej 3:23-24). Raja Daud yang diampuni oleh Allah atas dosanya berzinah dengan Betsheba dan membunuh Uria, tetap dihukum oleh Tuhan dengan kematian anaknya (lihat 2 Sam 12:13-14). ⁣

Nabi Musa dan Harun yang berdosa karena tidak percaya dan tidak menghormati Tuhan di hadapan umat Israel akhirnya tidak dapat masuk ke tanah terjanji (Bil 20:12). Nabi Zakharia, yang tidak percaya akan berita malaikat Gabriel, menjadi bisu (Luk 1:20).⁣ Itu adalah sebagian contoh dari konsekuensi dari beberapa dosa yang tercatat dalam sejarah Kekristenan.

Allah menginginkan kita agar kita menjadi kudus dan sempurna (lih. Im 19:2; Mat 5:48). Maka, jika kita belum sepenuhnya kudus, pada saat kita meninggal, kita masih harus disucikan terlebih dahulu jiwa kita di Api Penyucian, sebelum dapat bersatu dengan Tuhan di surga. ⁣

Pengingkaran akan adanya Api Penyucian sama dengan pengingkaran akan keadilan Tuhan. Karena pada dasarnya ada kaitannya dengan doa setelah kematian.⁣

Leave a Comment

Your email address will not be published.